Jajanan Malang Mistis dengan Aroma yang Hanya Tercium Anak Kecil
.jpg)
Jejak Awal Jajanan yang Tidak Bernama
Konon, jajanan ini tidak memiliki nama pasti. Warga setempat
menyebutnya dengan berbagai istilah, seperti “kue bayangan”, “permen arwah”,
atau bahkan “jajan tak kasatmata”. Pedagangnya tidak menempati lapak tetap,
melainkan muncul secara acak di beberapa titik kota Malang pada waktu-waktu
tertentu, terutama menjelang senja atau setelah hujan pertama turun. Yang
membuatnya unik, orang dewasa sama sekali tidak dapat melihat atau mencium
aroma jajanan tersebut.
Beberapa cerita menyebut bahwa pedagang ini mengenakan baju
lurik lusuh dan membawa nampan kayu berisi aneka jajanan berwarna pucat.
Anak-anak yang masih polos akan mendadak berhenti bermain, lalu berkata mereka
mencium bau manis seperti bunga dan madu bercampur asap dupa. Aroma ini menjadi
tanda keberadaan jajanan mistis tersebut.
Pengalaman Aneh Anak-anak
Banyak cerita turun-temurun dari para orang tua di daerah
sekitar Oro-Oro Dowo dan Celaket, yang mengatakan bahwa anak-anak mereka pernah
pulang membawa “bungkusan kosong” namun bersikeras bahwa isinya adalah kue
paling enak yang pernah mereka makan. Ketika diperiksa, bungkusan itu tampak
hanya berisi daun kering atau kertas kusut, tapi anak-anak mengunyahnya dengan
lahap seolah sedang menikmati manisan.
Uniknya, anak-anak yang pernah merasakannya mengaku bahwa
rasa jajanan itu berubah-ubah mengikuti suasana hati mereka: saat bahagia
terasa manis, saat sedih menjadi gurih, dan saat takut berubah menjadi asam
segar seperti buah. Efek ini menambah kesan bahwa jajanan tersebut bukan
berasal dari dunia biasa.
Larangan Tak Tertulis untuk Orang Dewasa
Beberapa sesepuh kampung percaya bahwa jajanan mistis ini
memang hanya ditujukan untuk anak-anak. Mereka mengatakan bahwa indra penciuman
anak kecil masih “murni” sehingga bisa menangkap aroma dari dunia tak
kasatmata. Orang dewasa, karena pikirannya terlalu penuh dengan logika dan
kekhawatiran, kehilangan kemampuan untuk membaui hal-hal gaib.
Karena itu, ada semacam larangan tak tertulis bagi orang tua
untuk mencoba ikut mencari pedagang tersebut. Konon, orang dewasa yang memaksa
mencium aromanya akan hanya merasakan bau tanah basah atau bahkan mengalami
pusing mendadak. Beberapa cerita menyebut ada yang pingsan setelah terlalu lama
menatap nampan kosong yang dibawa si pedagang.
Hubungan dengan Tradisi Lokal Malang
Legenda tentang jajanan mistis ini juga dikaitkan dengan
beberapa tradisi lama di Malang, terutama ritual bersih desa dan selamatan
anak. Pada beberapa upacara adat, ada kebiasaan membuat jajanan kecil berwarna
pucat yang dibentuk menyerupai bintang atau bulan sabit. Jajanan itu dipercaya
untuk “menyenangkan penunggu halus” agar tidak mengganggu pertumbuhan
anak-anak.
Beberapa budayawan lokal menduga bahwa cerita tentang
jajanan mistis ini merupakan sisa ingatan kolektif masyarakat terhadap tradisi
tersebut, yang kemudian berkembang menjadi cerita rakyat. Namun demikian,
hingga kini belum ada bukti fisik yang bisa menjelaskan keberadaan jajanan yang
hanya tercium oleh anak-anak ini.
Fenomena Aroma yang Menghilang
Beberapa peneliti lokal pernah mencoba menelusuri fenomena
ini. Mereka membawa alat pendeteksi aroma ke lokasi-lokasi di mana anak-anak
mengaku mencium jajanan tersebut, namun hasilnya nihil. Aroma hanya dapat
terdeteksi oleh anak-anak yang hadir, sementara alat dan penciuman orang dewasa
tidak menangkap apa pun.
Menariknya, begitu anak-anak tersebut tumbuh besar,
kemampuan mereka untuk mencium aroma itu perlahan menghilang. Banyak dari
mereka mengaku saat menginjak usia sekitar 10–12 tahun, mereka tidak lagi bisa
merasakan kehadiran jajanan itu. Seolah-olah aroma itu hanya muncul bagi mereka
yang masih menyimpan kepolosan masa kecil.
Penutup: Sebuah Misteri yang Dibiarkan Hidup
Jajanan Malang mistis dengan aroma yang hanya tercium anak
kecil mungkin selamanya akan menjadi misteri. Entah apakah ia benar-benar nyata
atau hanya simbol dari kenangan masa kecil yang manis dan tidak bisa diulang
kembali.
Bagi warga Malang, cerita ini menjadi pengingat bahwa dunia
anak-anak memiliki dimensi tersendiri yang tak sepenuhnya bisa dipahami orang
dewasa. Dan mungkin, sebagian pesona Malang memang terletak pada kemampuannya
menyimpan misteri kecil di antara jalanan dan pasar malamnya — misteri yang
hanya bisa dihirup oleh hidung-hidung kecil yang masih percaya pada keajaiban.