Kuliner Malang yang Hanya Ada Saat Bulan Purnama
Tradisi Kuliner Bulan Purnama
Asal mula tradisi ini berakar dari kepercayaan masyarakat
agraris Malang tempo dulu. Mereka percaya bahwa bulan purnama membawa energi
baik dan keberuntungan, sehingga cocok untuk mengadakan hajatan, panen raya,
dan berkumpul bersama keluarga. Dalam pertemuan itu, warga membuat makanan khas
yang dianggap sebagai simbol syukur atas hasil bumi. Seiring waktu, beberapa
keluarga yang mewarisi resep-resep tersebut memilih menjualnya kepada
masyarakat luas hanya ketika bulan purnama tiba, sebagai bentuk penghormatan
pada leluhur.
Hingga hari ini, setiap kali bulan bulat sempurna
menggantung di langit Malang, sejumlah lapak dadakan bermunculan di kawasan
alun-alun, kampung-kampung tua, hingga pasar malam musiman. Para penjual
membawa makanan khas yang tidak pernah mereka jual di luar malam purnama,
membuat suasana kota terasa magis dan penuh antusiasme.
Hidangan Langka yang Ditunggu-Tunggu
Salah satu hidangan paling populer adalah Jenang Purnama,
bubur ketan hitam kental dengan saus santan gurih dan taburan kelapa muda.
Konon, tekstur lengket ketan melambangkan eratnya tali persaudaraan, sementara
warna hitam pekatnya merepresentasikan kekuatan dan keteguhan hati. Jenang ini
hanya dimasak dalam jumlah terbatas, dan pembeli sering kali rela antre sejak
sore hari agar tidak kehabisan.
Ada pula Nasi Berkah Rembulan, sajian nasi gurih
beraroma pandan yang disajikan dengan lauk serba putih seperti ayam kukus,
telur rebus, kelapa parut, dan serundeng ringan. Warna putih pada hidangan ini
dipercaya melambangkan kesucian niat dan harapan baru. Menu ini biasanya
dikemas dalam daun pisang yang dilipat menyerupai bulan sabit, menambah kesan
simbolis yang kuat.
Tak kalah menarik, minuman khas bernama Wedang Sinar
Bulan juga selalu menjadi incaran. Minuman herbal hangat ini dibuat dari
campuran jahe, sereh, bunga telang, dan madu hutan, menghasilkan warna kebiruan
yang berkilau di bawah cahaya rembulan. Selain menyegarkan, wedang ini
dipercaya mampu meningkatkan stamina dan menenangkan pikiran—cocok diminum
sambil menikmati malam purnama di udara dingin Malang.
Pengalaman Kuliner yang Magis
Mengunjungi Malang saat bulan purnama memberi pengalaman
kuliner yang berbeda dari hari-hari biasa. Bukan hanya soal rasa, tapi juga
suasana yang tercipta. Lampu-lampu temaram dari lapak-lapak bambu berpadu
dengan cahaya bulan, diiringi alunan gamelan pelan dari pengeras suara tua.
Pengunjung duduk lesehan di tikar sambil berbagi cerita, meneguk wedang hangat,
dan mencicipi jenang manis—semuanya menciptakan kenangan yang sulit dilupakan.
Bagi warga lokal, malam bulan purnama adalah waktu untuk
bersyukur dan mempererat hubungan. Bagi wisatawan, ini menjadi kesempatan
langka untuk menyaksikan langsung tradisi kuliner sakral yang tidak bisa
dinikmati kapan saja. Tidak heran jika banyak pengunjung rela menyesuaikan
jadwal libur mereka hanya agar bisa merasakan atmosfer unik ini.
Warisan yang Terus Dijaga
Meski terkesan mistis, tradisi kuliner bulan purnama ini
merupakan bagian penting dari identitas budaya Malang. Para pelaku kuliner
berharap generasi muda terus melestarikannya, agar tidak terkikis oleh
modernisasi. Beberapa komunitas budaya bahkan mulai mendokumentasikan
resep-resep langka ini dan mengadakan festival kecil setiap tahun untuk
memperkenalkannya pada khalayak luas.
Bagi siapa pun yang mencintai wisata kuliner, merencanakan
kunjungan ke Malang saat bulan purnama bisa menjadi pengalaman yang benar-benar
berbeda. Tidak hanya mencicipi rasa, tetapi juga meneguk sejarah, simbolisme,
dan kehangatan budaya masyarakatnya dalam setiap suapan.