Street Food Malang yang Katanya Tak Bisa Difoto

Misteri di Balik Gerobak Tua
Konon, street food misterius ini hanya muncul di gang sempit
dekat kawasan Alun-Alun Tugu, tepat menjelang tengah malam. Pedagangnya
menggunakan gerobak tua dari kayu jati yang tampak rapuh, dihiasi lampu minyak
kecil yang berkelap-kelip seperti lilin. Uniknya, saat para pengunjung mencoba
memotret makanan atau gerobaknya, hasil fotonya selalu kosong. Ada yang bilang
hanya muncul kabut tipis, ada juga yang hasilnya hanya cahaya putih menyilaukan
tanpa bentuk.
Beberapa warga sekitar mengaku pernah melihat orang mencoba
memotret dengan kamera digital, ponsel terbaru, bahkan kamera film jadul, tapi
hasilnya tetap nihil. Foto yang diambil seolah menolak menampilkan keberadaan
street food tersebut. Karena itulah, jajanan ini mendapat julukan “street food
Malang yang tak bisa difoto”.
Rasa yang Sulit Dilupakan
Mereka yang berhasil mencicipi makanan dari gerobak ini
menggambarkan rasanya luar biasa—kombinasi antara gurih, manis, dan hangat yang
tak bisa ditemukan di tempat lain. Bentuk makanannya menyerupai semacam lumpia
mini berisi daging rempah, disajikan dengan kuah hangat dan taburan bawang
goreng. Aroma rempahnya begitu kuat, tapi lembut di mulut, membuat siapa pun
yang mencobanya merasa tenang dan bahagia, bahkan ada yang mengaku seperti
“melupakan waktu”.
Anehnya, meskipun rasanya begitu kuat di ingatan, mereka
tidak bisa mendeskripsikan warna atau tampilan visual makanan tersebut secara
jelas. Saat ditanya bentuknya seperti apa, para saksi sering kebingungan: ada
yang bilang warnanya keemasan, ada yang bilang transparan, bahkan ada yang
bilang “tidak punya warna”. Inilah yang membuat misteri ini semakin menarik.
Cerita dari Para Pemburu Kuliner
Banyak pemburu kuliner dan food vlogger dari luar kota
mencoba memburu gerobak misterius ini. Mereka datang dengan perlengkapan kamera
canggih, tripod, hingga drone, berharap bisa mengabadikan street food paling
aneh di Malang ini. Namun, sebagian besar dari mereka pulang dengan tangan
hampa. Video yang direkam hanya memperlihatkan jalan kosong, suara latar yang
hilang, atau bahkan perangkat mereka mendadak error saat merekam.
Ada satu cerita menarik dari seorang vlogger asal Jakarta
yang akhirnya berhasil makan di gerobak tersebut. Ia bercerita bahwa saat dia
berhenti mencoba merekam dan hanya menikmati suasana malam, gerobak itu
tiba-tiba muncul dari balik kabut. Pedagangnya hanya tersenyum, tidak bicara
sepatah kata pun, lalu menyajikan sepiring kecil makanan hangat. Setelah
selesai makan dan membayar, ia menoleh sebentar ke arah jalan… dan gerobak itu
sudah hilang begitu saja. Ketika ia memeriksa kembali kamera dan ponselnya,
file rekaman malam itu semuanya rusak.
Mitos atau Sekadar Ilusi?
Belum ada penjelasan ilmiah atau bukti nyata tentang street
food Malang yang tak bisa difoto ini. Sebagian orang percaya ini hanyalah ilusi
optik karena pencahayaan malam yang redup dan kabut khas Malang, sehingga
kamera gagal menangkap detail objek. Namun, ada pula yang percaya bahwa ini
adalah warung gaib peninggalan zaman kolonial, yang hanya muncul pada
orang-orang tertentu yang benar-benar lapar atau sedang membutuhkan kenyamanan
batin.
Beberapa warga tua bahkan bercerita bahwa makanan ini dulu
disajikan untuk para pejuang kemerdekaan yang kelaparan di malam hari, dan
hingga kini arwah sang pedagang masih menjaga tradisi itu—hanya muncul pada
orang yang dianggap “layak” menikmatinya.
Daya Tarik Tersendiri bagi Wisatawan
Meskipun misterius, cerita tentang street food yang tak bisa
difoto ini justru membuat Malang semakin menarik di mata wisatawan. Banyak
orang datang bukan hanya untuk mencicipi bakso dan rawon, tetapi juga untuk
“berburu yang tak terlihat”. Mereka ingin merasakan sensasi berjalan di gang
malam yang sepi, berharap menemukan gerobak tua yang bercahaya lembut di tengah
kabut.
Bagi sebagian orang, pengalaman ini bukan soal makanannya,
melainkan soal petualangan—sebuah pengalaman kuliner yang tidak bisa ditangkap
kamera, hanya bisa disimpan dalam kenangan pribadi.
